Skip to main content

Bukuku


[2025]

Burung-burung Petungkriyono dan Lebakbarang: keragaman, ancaman, dan upaya konservasinya

Taufiqurrahman, I. & K. Ahmadin. 2025. Burung-burung Petungkriyono dan Lebakbarang: keragaman, ancaman, dan upaya konservasinya. Yayasan Swaraowa: Yogyakarta.

[2022]

Panduan lapangan burung-burung di Indonesia Seri 1: Sunda Besar

Taufiqurrahman, I., P.G. Akbar, A.A. Purwanto, M. Untung, Z Assiddiqi, M. Iqbal, W.K. Wibowo, F.N. Tirtaningtyas & D.A. Triana. 2022. Panduan lapangan burung-burung di Indonesia Seri 1: Sunda Besar. Birdpacker Indonesia-Interlude: Batu.


[2020]

Atlas Burung Indonesia: Wujud Karya Peneliti Amatir dalam Memetakan Burung Nusantara 

Atlas Burung Indonesia. 2020. Atlas Burung Indonesia: Wujud Karya Peneliti Amatir dalam Memetakan Burung Nusantara. Yayasan Atlas Burung Indonesia: Batu.


[2019]

Burung-burung Kepulauan Mentawai

Taufiqurrahman, I., I. Saumanuk, D. Tatteburuk, M. Sakaliou & A. Setiawan. 2019. Burung-burung Kepulauan Mentawai. SwaraOwa: Yogyakarta.


[2015]

Daftar Burung Daerah Istimewa Yogyakarta 

Taufiqurrahman, I., I.P. Yuda, M. Untung, E.D. Atmaja & N.S. Budi. 2015. Daftar Burung Daerah Istimewa Yogyakarta. Yayasan Kutilang Indonesia: Yogyakarta. (UNDUH)


Comments

Popular posts from this blog

Mengamati mudiknya sang pemangsa dari Pegunungan Dieng utara

  Puluhan burung pemangsa saat terpantau di DAS Kupang, Batang, 21 Maret 2025. Bicara mudik, momen akhir puasa 1446 Hijriah ini terbilang menarik. Agenda menyambut lebaran itu tak hanya milik manusia-manusia perantau. Ada pula burung pemangsa yang terpantau berbondong-bondong bergerak "pulang kampung".  Tetapi, meskipun sama-sama menjalaninya sebagai ritual tahunan, tujuan mudik kaum rantau dan burung pemangsa berbeda. Buat kita, menyambangi tanah kelahiran jadi ajang silaturahmi, temu kangen dengan orang tua, keluarga, maupun kerabat dekat. Buat burung pemangsa, tiada lain untuk berkembang biak, melanjutkan upaya melanggengkan eksistensi mereka sebagai spesies.  Bersama Apen, saya cukup beruntung bisa sedikit memergoki hiruk-pikuk pergerakan burung-burung pemangsa migran tersebut saat berkunjung ke sekitaran Daerah Aliran Sungai (DAS) Kupang, Batang. Lewat pengamatan pada 21 Maret 2025 yang terbilang insidental itu, tiga titik perjumpaan tercatat. Titik pantau di sekitar...

Dua Abad Ornitologi Jawa: Cuitan Pembuka

Tahun 2021 hampir tamat. Namun ada irisan peristiwa yang membuat tahun ini jadi momentum dua abad buat perburungan tanah Jawa. Lewat dua publikasi di 1821, Jawa muncul mewarnai jagad ornitologi.  Tak ingin melewatkannya, saya pun menyusun naskah kecil berjudul "Dua Abad Ornitologi Jawa", dengan sub-judul  " Thomas Walker Horsfield, Karyanya di 1821, dan Perkembangan Perburungan oleh Anak Negeri " . Setelah penggarapan sepanjang Januari hingga April, buku ringan ini kemudian dicetak khusus dan sangat terbatas. Usai itu, saya meminta kesediaan beberapa peneliti burung Tanah Air untuk ikut membacanya. Pak Soma [Prof. Dr. Soekarja Somadikarta  (Emeritus )], Pak Pram [Ir. Ign. Pramana Yuda. M.Si., Ph.D], Bu Ani [Prof. Dr. Ir. Ani Mardiastuti, M.Sc], dan juga Dr. Sebastian van Balen. Hingga kemudian saatnya kini saya bermaksud mencetaknya kembali. Kali ini untuk menghadirkannya ke khalayak yang lebih luas, dengan isi yang diperkaya asupan dan masukan para ornitolog, terma...

Penguin di Jawa

Uraian Meyer (1884) terkait penguin di Jawa. Dari sedemikian banyak jenis burung di dunia, menurut saya penguin jadi salah satu yang teraneh. Lebih aneh lagi, ia ternyata pernah tercatat hadir di Jawa. Adalah Adolf Bernhard Meyer, seorang ornitolog Jerman, yang menyampaikan itu lewat makalahnya tentang burung Hindia Timur. Makalah tersebut ia sampaikan dalam kongres ornitologi internasional di Wien, 7-14 April 1884. Dari 153 jenis yang tertera, ada Southern Rockhopper Penguin Eudyptes chrysocome di sana. "Seorang nelayan," buka Meyer dalam uraiannya, "menemukan spesimen [penguin tersebut] di pantai dekat Batavia; demikian menurut komunikasi yang disampaikan Tn. v. Schierbrand pada saya." Uraiannya masih agak panjang, tapi saya potong saja di situ. Soalnya, dari satu kalimat singkat itu saja banyak hal menarik untuk dikupas. Tiga saja lah ya. Pertama, sang nelayan bisa dipastikan inlander. Kalau ia dari bangsa kolonial namanya tentu tertera, sebagaimana Meyer menyeb...